Di Bawah Lindungan Kelor
Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan lebih dari dua miliar penduduk dunia terinfeksi hepatitis B dan 170-juta penduduk dunia mengidap hepatitis C. Angka kematian kedua jenis hepatitis itu masing-masing 250.000 orang dan 350.000 orang per tahun. Indonesia menempati peringkat ketiga dunia untuk penderita hepatitis terbanyak setelah India dan Tiongkok. Diperkirakan 8% dari total jumlah penduduk atau sekitar 30-juta penduduk Indonesia menderita hepatitis.
Menurut dr Zen Djaja, dokter di Jakarta, hepatitis dapat disebabkan infeksi virus maupun kebiasaan hidup yang tidak baik, seperti konsumsi alkohol, obat terlarang, istirahat kurang, serta konsumsi lemak berlebih. Jenis hepatitis beragam, yakni hepatitis A, B, C, E, F, dan G akibat serangan strain virus yang berbeda. “Jenis yang paling banyak menyerang hepatitis A, B, dan C,” ujar dokter alumnus Universitas Katolik Atmajaya Jakarta itu.
Gejala klinis yang menyertai penyakit ini demam, pusing, dan muncul warna kuning di seluruh tubuh, terutama di bagian sklera mata. Warna kuning itu akibat bilirubin—hasil penguraian sel darah merah mati—yang tidak tersaring. Oleh karena itu masyarakat menyebut hepatitis sebagai penyakit kuning. Jika gejala seperti itu muncul, sebaiknya pasien segera memeriksakan diri di laboratorium untuk memastikan jenis hepatitis yang menyerang. “Menjaga pola hidup, pola makan, serta olahraga bisa menjadi tindakan pencegahan hepatitis,” ujarnya.
Bobot tubuh Budi berkurang hingga 10 kg dari 86 kg menjadi 76 kg. “Saya hanya pasrah,” kata ayah 5 anak itu. Tak tega melihat kondisi ayah mertua, Gatot Santosa menyarankan Budi mengonsumsi daun kelor pada 2008. Tanpa pikir panjang, pensiunan Badan Usaha Milik Negara itu pun menuruti saran menantunya. Budi mengonsumsi dua kapsul ekstrak daun Moringa oleifera itu 3 kali sehari.
Sepekan mengonsumsi ekstrak daun famili Moringaceae itu, kondisi Budi membaik. “Lemah tidak dirasa, nafsu makan meningkat dan tidur saya pulas,” ujarnya. Selain mengonsumsi ekstrak, Budi juga kerap mengonsumsi sayur daun kelor. Sejak rutin mengonsumsi ekstrak dan sayur daun kelor, Budi tidak merasakan lagi letih dan lemah. Meski demikian, ia tetap melanjutkan konsumsi ekstrak kelor 3 kali sehari masing-masing 1 kapsul untuk menjaga stamina.
Sayang, hingga kini Budi belum memeriksakan diri ke dokter untuk mengecek kondisi kesehatan terakhir. Kadar SGOT/SGPT sebagai salah satu indikator hepatitis B, belum terdeteksi. Budi merasa nyaman dengan kondisi kesehatan terkini.
Menurut dr Zen Djaja, dokter di Jakarta, hepatitis dapat disebabkan infeksi virus maupun kebiasaan hidup yang tidak baik, seperti konsumsi alkohol, obat terlarang, istirahat kurang, serta konsumsi lemak berlebih. Jenis hepatitis beragam, yakni hepatitis A, B, C, E, F, dan G akibat serangan strain virus yang berbeda. “Jenis yang paling banyak menyerang hepatitis A, B, dan C,” ujar dokter alumnus Universitas Katolik Atmajaya Jakarta itu.
Gejala klinis yang menyertai penyakit ini demam, pusing, dan muncul warna kuning di seluruh tubuh, terutama di bagian sklera mata. Warna kuning itu akibat bilirubin—hasil penguraian sel darah merah mati—yang tidak tersaring. Oleh karena itu masyarakat menyebut hepatitis sebagai penyakit kuning. Jika gejala seperti itu muncul, sebaiknya pasien segera memeriksakan diri di laboratorium untuk memastikan jenis hepatitis yang menyerang. “Menjaga pola hidup, pola makan, serta olahraga bisa menjadi tindakan pencegahan hepatitis,” ujarnya.
Bobot tubuh Budi berkurang hingga 10 kg dari 86 kg menjadi 76 kg. “Saya hanya pasrah,” kata ayah 5 anak itu. Tak tega melihat kondisi ayah mertua, Gatot Santosa menyarankan Budi mengonsumsi daun kelor pada 2008. Tanpa pikir panjang, pensiunan Badan Usaha Milik Negara itu pun menuruti saran menantunya. Budi mengonsumsi dua kapsul ekstrak daun Moringa oleifera itu 3 kali sehari.
Sepekan mengonsumsi ekstrak daun famili Moringaceae itu, kondisi Budi membaik. “Lemah tidak dirasa, nafsu makan meningkat dan tidur saya pulas,” ujarnya. Selain mengonsumsi ekstrak, Budi juga kerap mengonsumsi sayur daun kelor. Sejak rutin mengonsumsi ekstrak dan sayur daun kelor, Budi tidak merasakan lagi letih dan lemah. Meski demikian, ia tetap melanjutkan konsumsi ekstrak kelor 3 kali sehari masing-masing 1 kapsul untuk menjaga stamina.
Sayang, hingga kini Budi belum memeriksakan diri ke dokter untuk mengecek kondisi kesehatan terakhir. Kadar SGOT/SGPT sebagai salah satu indikator hepatitis B, belum terdeteksi. Budi merasa nyaman dengan kondisi kesehatan terkini.
Teruji
Manfaat kelor sebagai hepatoprotektor telah teruji di laboratorium. Itu adalah hasil riset Buraimoh dan rekan di Fakultas Kedokteran, Universitas Ahmadu Bello, Nigeria, yang menguji khasiat daun kelor secara praklinis. Periset itu membagi 15 tikus dalam 3 kelompok masing-masing 5 ekor. Kelompok 1 sebagai kontrol: mereka menginduksi air suling pada satwa percobaan itu. Kelompok 2 sebagai kontrol negatif, induksi 1 g parasetamol per kg bobot tubuh selama 10 hari. Kelompok 3: induksi parasetamol 1 g per kg bobot tubuh dan 500 mg per kg bobot tubuh ekstrak daun kelor selama 10 hari. Pemberian parasetamol untuk merusak hati.
Hasilnya, pemberian ekstrak daun kelor memiliki kemampuan hepatoprotektif. Itu terlihat dari kelompok yang diinduksi ekstrak daun kelor, mengalami nekrosis sel hati lebih sedikit daripada grup yang tidak diinduksi ektrak kelor. Periset itu menduga kandungan fenol, kumarin, lignan, miyak esensial, monoterpen, karotinoid, glikosida, flavonoid, asam organik, alkaloid, dan xanthenes berperan besar dalam melindungi hati dengan memperbaiki fungsi sel-sel hati.
Manfaat kelor sebagai hepatoprotektor telah teruji di laboratorium. Itu adalah hasil riset Buraimoh dan rekan di Fakultas Kedokteran, Universitas Ahmadu Bello, Nigeria, yang menguji khasiat daun kelor secara praklinis. Periset itu membagi 15 tikus dalam 3 kelompok masing-masing 5 ekor. Kelompok 1 sebagai kontrol: mereka menginduksi air suling pada satwa percobaan itu. Kelompok 2 sebagai kontrol negatif, induksi 1 g parasetamol per kg bobot tubuh selama 10 hari. Kelompok 3: induksi parasetamol 1 g per kg bobot tubuh dan 500 mg per kg bobot tubuh ekstrak daun kelor selama 10 hari. Pemberian parasetamol untuk merusak hati.
Hasilnya, pemberian ekstrak daun kelor memiliki kemampuan hepatoprotektif. Itu terlihat dari kelompok yang diinduksi ekstrak daun kelor, mengalami nekrosis sel hati lebih sedikit daripada grup yang tidak diinduksi ektrak kelor. Periset itu menduga kandungan fenol, kumarin, lignan, miyak esensial, monoterpen, karotinoid, glikosida, flavonoid, asam organik, alkaloid, dan xanthenes berperan besar dalam melindungi hati dengan memperbaiki fungsi sel-sel hati.
15 gram daun kelor dan herbal lain seperti temulawak dan sambiloto kepada pasien hepatitis. Keluarga merebus herbal itu dalam
600 ml air hingga mendidih selama 15 menit, menyaring, dan memberikan kepada pasien. Frekuensi konsumsi 2 kali, jika sudah kronis 3 kali sehari, masing-masing 300 ml setara 1 gelas. Untuk mengurangi rasa pahit dapat juga ditambahkan madu.
dikutip dari: Majalah Trubus.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar